Shoot

Agustus 2008

hari kamis sekita jam setengah delapanan aku datang lagi ke puskesmas tempat pamanku dirawat, tapi bedanya pakaian saya sedikit lebih rapi sekarang.

“gile lu, mau ngejenguk aja rapi amat” sindir sony

“aku mau nembak cewek nih, gimana ya caranya.?” tanyaku padanya

“mau nembak cewek aja gak bisa, gimana mau pacaran” kata-katanya memang ku benarkan karena semalamkan aku nembak lewat hp (sms pula) pasti rasanya akan jauh berbeda ketika berbica di depan matanya langsung.

Akhirnya setelah di kasih wejangan-wejangan juara, aku berangkat menuju rumah mawar.

Dengan sejuta keyakinan.

Dengan semangat yang membara di dada.

Dengan membaca bissmillah…mari makan (Lah koq..?).

 

Aku ingat benar kata-kata sony waktu itu, kata-kata untuk melepaskan ke medan perang. Perang antara keyakinan dan keraguan, antara diterima atau ditolak.

“berangkatlah dengan restuku anak muda” inilah kata-kata yang selalu terngiang di telingaku, kata-kata yang sudah berumur lebih dari 4 tahun.

Dengan perasaan tak menentu, ku cari rumah mawar persis seperti alamat yang ia berikan padaku. Mulailah aku bernyanyi “alamat palsu” ayu tingting (kesana kemari mencari alamat). Memang pada kenyataan alamat yang ia berikan padaku adalah alamat palsu.

“Lha…Jembatan..?” aku terkaget ketika mengetahui alamat yang ia berikan semalam menuju pada sebuah jembata, jembatan yang hanya terbuat dari pohon kelapa ini tak mungkin  bisa ku lalui dengan sepeda motor.

“wah nipu nih” kataku perlahan sambil memutar balik sepeda motorku

“apa jangan-jangan yang semalem sms-an denganku itu bukan mawar, tapi…?” pikiranku mulai ngaco.

“kak joe” terdengar suara mawar memanggilku, tapi aku tak melihat ada mawar di jembatan itu. Bulu kudukku semakin berdiri tegak dan meninggi.

“kak joe, sini adek disini” suara nya semakin terdengar jelas dibelakangku.

Segera aku membalikan badan dan mencari arah suaranya.

“aih, ternyata memang mataku yang seliwer  bukan alamatnya yang palsu” kataku membatin. Rumah mawar ada tepat di samping sebelah kananku, saat aku memandang ke jembatan berarti rumahnya ada di belakangku, wajar jika aku tak melihatnya.

“ngapain disana tadi.?” tanya mawar ketika aku sedang memarkirkan sepeda motorku di halaman rumahnya yang tak seberapa luas tapi tersusun rapi.

“lagi nyari tempat mau pipis” kataku mengelak

“pipis dibelakang aja sana, ngapain pipis di jembatan” terlihat senyum tipis mengembang dari bibirnya yang manis.

Kami terbawa dalam pembicaraan yang sangat panjang. Teringat sebuah pepatah, yang menentukan kecocokanmu dengan seseorang adalah ketika kau berbicara padanya sampai kau lupa waktu. Dan kami memang telah lupa waktu, sampai-sampai aku hampir melupakan maksud dari kedatanganku kemari yaitu aku ingin mengungkapkan cinta padanya.

Ya walau semalam aku sudah sms-an dengannya dan ia menerima cintaku, tapi tetap saja itu hanyalah SMS atau Short Massage Service atau pesan pendek, nah karena kata “pendek” itulah aku takut jika hubungan kami akan lebih pendek dari sms itu sendiri.

Terasa kurang legal juga sih jika pacaran hanya lewat sms, kurang afdol kalo’ kata orangtua ku.

Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, sesegera mungkin aku akan mempraktekkan jurus jitu dari saudaraku tadi.

Pertama ku pegang erat tangannya, sangat erat seolah aku tak mau melepaskannya lagi. Seolah jika tangan itu ku lepaskan maka aku akan kehilangan dia untuk selamanya.

Pada awalnya dia hanya terdiam, tapi kemudia ia mulai merota sedikit ingin melepaskan genggamanku, mungkin karena aku terlalu keras menggenggam tangannya. Tapi sebelum dia melepaskan diri dari genggamanku, segera aku duduk jongkok di depannya (seperti seorang anak yang akan sungkem dengan ke-dua orangtuanya). Ku tatap matanya dalam, sangat dalam. Seolah aku sedang meramal apa yang sedang ia fikirkan. Matanya sedikit terlihat bingung. Ku ucapkan secara perlahan tapi memastikan dia dapat mendengarkanku, “maukah kau menjadi pacarku, menjadi pendamping di setiap hariku, menjadi tujuan dalam semua asa dan cita cintaku”.

“kak” katanya tak kalah pelan. Beruntung telingaku mempunyai pendengeran yang sedikit tajam.

Tanpa menunggu ia melanjutkan kata-katanya ku kecup punggung tangannya dengan mesra dan penuh cinta, biar ia rasakan sendiri aliran cinta ini. Biar ia rasakan sendiri bahwa benih cinta telah ia tanam di hatiku.

Masih dalam posisi seperti tadi (bearti belum berurubah ya) yang bisa ku lakukan hanya menunggu. Menunggu respon darinya atas perbuatanku tadi : “diterima” atau “digampar”.

 

Ternyata dia bilang “aku mau kok jadi pacarnya kakak”

Betapa bahagianya hatiku saat ini. Kumbang yang terbang tak tau arah pulang kini sudah menemukan mawarnya. Aku seperti terbang di taman yang dipenuhi bunga-bunga mawar yang sedang mekar.

baca kisah sebelumnya…

Original post by : https://plusmassal.wordpress.com