2. Short Massage Service

Agustus 2008

untukmu pujangga ketahuilah

cintaku tak bersajak tak bersyair

cintaku tak bernada

cintaku mengalir seperti air

berjalan menembus segala macam rintangan

tapi akan selalu bermuara pada hati yang sama

cintaku bagai pergerakan matahari

berawal dari aku membuka mata

sampai tertutup kedua kelopak ini lagi

dalam mimpi cintaku tetap ada

dalam gelap cintaku tetap membara

bagai lentera yang tak pernah padam

cintaku tak berumus

cintaku akan tetap mengalun walau tanpa petikan gitar

karena inilah cintaku dan beginilah adanya aku

 

*****


disuatu malam yang gelap berderai air mata. Bulan malam ini nampak anggun menampilkan diri sepenuhnya. Malam ini ada sanak family yang sedang dirawat di rumah sakit, sebenarnya itu bukan rumah sakit, hanyalah sebuah puskesmas rawat inap. Sudah seperti tugasku biasanya jika adsa yang di rawat disana baik itu dari lingkungan saudara ataupun tetangga tugasku adalah mengantarkan bekal makanan untuk keluarga yang menunggunya.

“ya hitung-hitung sedekah” kata ibuku

aku tak dapat membantah satu katapun dari wanita yang sangat aku cintai dan sangat mencintaiku. Malam itu sebenarnya aku sedikit malas untuk keluar rumah, selain karna mata sudah terasa sangat lelah karena seharian bekerja yang membutuhkan konsentrasi penuh, juga karena sebenarnya malam ini udara sangat dingin. Tapi apalah daya ku pacu sepeda motorku melalui jalan-jalan kampungku yang lumayan gelap.

 

Malam itu tanpa ku duga sebelumnya sebuah cinta datang menghapus segala problema dalam hidupku. Malam itu masih sangat jelas di ingatanku, sebuah malam kamis yang dihiasi penuh dengan bintang-bintang, sang ratu malampun tak segan-segan menampakkan seluruh tubuhnya yang membulat, begitu juga adanya dengan binatang-binatang malam yang seolah sedang bernyanyi riang menyambut malam yang tak pernah terlupa dalam hidupku, dan akan selalu terkenang selama aku hidup.

 

Malam sudah menjelang pukul 8 malam. Cacing-cacing dalam perutku sudah berteriak meminta makan. Aku hanya bisa mengemis pada mereka agar menahan sebentar hasrat mereka. Tadinya aku tak berniat sampai terlalu lama disini bahkan sampai bermalam disini, tapi karena yang menjaga pamanku yang sakit hanya ada 2 orang maka ku putuskan untuk menemani mereka sampai larut nanti.

“ah, bawa makanan buat orang tapi aku sendiri kelaparan” gerutuku dalam hati.

“gak makan joe.?” kata sony, dia adalah anak tertua dari pamanku yang sedang di rawat itu.

“udah makan aja sini bareng ama kita” dede menyambung kata-kata kakaknya.

“ah, aku belum laper tadi sebelum kesini udah makan” aku berbohong karena aku yakin mereka juga pasti sudah sangat lapar ketika aku membawa bekal untuk mereka.

Pamanku itu hidup berempat dengan anaknya, anak tertua bernama sony, adiknya adalah dede yang seumuranku dan yang paling kecil adalah putri yang baru berusia 5 tahunan kala itu.

“aku cari rokok dulu ya diluar” kataku berpamitan

“hati-hati ya di deket pohon depan sana” kata dede seraya menunjuk ke luar jendela yang mengarah ke sebuah pohon yang cukup besar di depan puskesmas ini.

“emangnya ada apa disana.?” tanyaku

“yang jelas sesuatu” katanya dengan nada sedikit horror berniat untuk menakut-nakutiku.

Beruntung kala itu syahrini belum terkenal dengan “sesuatu”nya. Tapi aku bukanlah tipe orang yang suka percaya dengan cerita hantu atau hal-hal yang berbau mistik. Aku bukan tak percaya sepenuhnya, aku yakin mereka ada tapi karna kita sebagai manusia adalah makhluk sosial, maka utamakan keselamatan. Eh, maksudnya kerukunan. Selama kita tak mengganggu atau mengusik mereka, sudah barang tentu mereka juga tak akan mengusik kita.

 

“rokoknya sebungkus bu” kataku kepada penjaga toko kelontongan di dekat puskesmas itu.

Setelah transaksi selesai, aku tak segera kembali masuk kedalam tapi ku putuskan untuk menghirup sedikit udara segar, tapi gimana mau segar yang ku hisap sebenarnya adalah asap tembakau.

“joe” teriak sebuah suara. Arahnya sih dari sebuah rumah diseberang jalan, tapi karena rumah itu belum dialiri listrik maka aku tak mengenal dengan jelas siapa yang memanggilku. Baru setelah orang itu datang menghampiriku, aku mengenalnya bahkan cukup mengenalnya. Dia adalah abdul salah seorang adik kelaskku dulu sewaktu di sma.

 

Setelah berbincang-bincang sejenak di pinggir jalan aku memutuskan untuk bergabung dengan teman-teman abdul. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 21:00 saat aku mulai merasa jenuh.

“dul, kamu punya nomernya mawar gak.?” tanyaku seketika dan sekenanya

“ada” jawabnya

“mau buat apa.?”  sambungnya

“suntuk nih pingin smsn aja, siniin hp mu” kataku sambil menunjuk ke arah handphone dia yanng tergeletak di bangku tempatnya duduk

“ada pulsanya kan.?” tanyaku karena handphoneku sedang tak ada pulsanya

gratongan nih” belum selesai dia berkata sudah ku samber aja handphonenya itu.

Hp sudah ditangan, malah bingung mau sms apa. Setelah 5 menit berfikir keras akhirnya ku sms dia dengan sms pembukaan : “ Hay “.

 

dan pada akhirnyapun kami smsan, karena mau nelpon juga mikir-mikir dulu, 1 hp orang dan yang ke-2 belum tentu juga hp-nya abdul yang jadul ini ada pulsanya. Minta sms-an aja dikasih yang gratisan, kalau seumpama gak gratisan belum tentu dikasih.

Setelah sms-an gak jelas, timbul niat buat ngisengin mawar.

Sms-nya kira-kira begini

aku : “war, emang gak ada yang marah kita sms-an gini.?”

mawar : “siaapa yang mau marah.?”

aku : “pacar kamu seumpamanya”

mawar : “lagi gak pacar”

aku : “ah bohong, cewek secantik kamu gak mungkin jomblo”

mawar : “beneran, cariin pacar donk”

aku : “udah ama aku aja”

mawar : “maksudnya.?”

aku : “ya..kamu mau gak jadi pacarku.?”

mawar : “orang gila macam kamu doyan pacaran juga ya.?”

aku : “kampret seriusan nih, mau apa gak.?”

mawar : “pikir-pikir dulu ya”

aku : “kalau mau nolak lebih baik sekarang, gak usah pake mikir-mikir segala ;-( “

mawar : “emang siapa yang mau nolak”

aku : “jadi mau gak jadi pacarku”

mawar : “kok malah maksa”

aku : “aku gak maksa, cuma ini hp udah mau diambil ama yang punya, makanya buruan jawab”

mawar : “gak modal, mau nembak cewek aja hp-nya dapet minjem”

aku : “^_^ hehehehe ^_^ , jadi gimana.?”

mawar : “yaudah kita jalani aja dulu”

aku : “pacaran aja belum udah minta jalan, mau apa gak.?”

mawar : “iyaaa…baweeeeel”

aku : “yaudah, besok aku ke rumahmu, gak usah dibales. Ini nomerku +628********* “

 

“udah jadian cuma lewat sms doank.?” kata abdul sambil cek pulsa

“jiaaaaaah, pulsa ku sekarat gara-gara kamu buat sms-an” sambungnya setengah berteriak.

“Lha, tadi kata kamu gratis” aku mencoba membela diri

“itu juga aku kata operatornya, di dunia ini apa sih yang gratis. Buang air aja bayar” katanya dengan nada kesal. Karena merasa berhutang pulsa dan sedikit jasa juga, mau gimana lagi “besok aku ganti 2X dari pulsamu yang tadi” kataku.

Original post by : https://plusmassal.wordpress.com