Selat Sunda

14 – 11 – 2012

Untukmu mawar : jika kau memang benar mencintaku, setelah kau baca buku ini semoga kau bisa segera bertemu denganku tapi ketahuilah aku sudah tak berharap lebih lagi padamu setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini.

Aku takkan pernah menghindarimu tapi kau sendiri yang meghindariku. Aku tak akan menyesal jika kau kini bersama orang lain lagi. aku hanya kumbang yang ingin terbang bebas di taman yang penuh dengan bunga-bunga. Jika aku gagal dengan mawar semoga aku beruntung dengan melati, dan jika aku gagal juga, aku mungkin akan beruntung dengan bunga bakung. Aku sudah tak peduli lagi dengan rasa cinta, hatiku selalu terbuka untukmu dan kini terbuka juga untuk bunga-bunga yang lain. Mungkin kau kurang beruntung jika memilikiku tapi aku lebih tidak beruntung berkorban untukmu. Aku tak ingin membuat air mata berurai di pipimu, aku juga tak ingin membuat hatimu terkoyak. Cukup sudah air mataku mengering sendiri dan hatiku juga sudah cukup terkoyak dengan semua ini.

tuuuut…tuuuuuuuuuut….tuuuuuuuuut…(ini bunyi pluit kapal apa kentut ya.?)

kapal yang ku tumpangi mulai meninggalkan pelabuhan merak banten. Hari ini ku putuskan untuk pulang ke kampung halamanku. Mungkin aku akan kembali lagi atau mungkin juga tidak, aku sendiri tak mengetahui itu. Karena manusia hanya diberi kelebihan dalam menebak, selebihnya ada yang lebih berhak menentukannya.

Selat sunda…hmmmmmmm

sebuah laut kecil yang memisahkan antara pulau jawa dengan sumatera, juga yang memisahkan aku dengan mawar beberapa tahun lamanya. Jika ingin menyebrangi selat ini cukup dengan menumpang (bayar lho..) pada kapal fery dari perusahaan pelni. Perjalanannya juga cukup singkat, hanya sekita dua jam perjalanan jika tidak ada kendala yang berarti tapi jika lalu lintas laut sedang ramai perjalanan bisa memakan waktu hampir tiga jam bahkan bisa empat jam itu belum lagi jika sedang badai atau angin kencang perjalanan bisa lebih lama lagi karena banyak penyebrangan yang di tunda.

Sekali dalam hidupku berdekatan dengan mawar di kapal ini.

ya..kapal yang sedang ku tumpangi kemungkinan besar adalah kapal yang sama ketika kami menaikinya pada mudik tahun ini. Lebaran baru beberapa bulan yang lalu tapi lembaran hidupku seolah sudah hampir penuh berisi begitu banyak problema yang ku hadapi. Sambil mengenang masa-masa yang singkat itu, aku berdiri di pagar pembatas kapal. Dari sini terlihat dengan jelas indahnya ciptaan tuhan yang di beri nama lautan.

Kapal ini melaju cukup kencang, terasa dengan terpaan angin yang mengenai tubuhku. Sedikit merinding juga jika melihat berita kapal tabrakan beberapa waktu yang lalu, semoga kejadian itu tak menimpa padaku.

Ku hirup udara laut yang terasa segar di tenggorokan. Perjalananku sore ini seorang diri menuju kampung halamanku. Ku raba saku celanaku, ada sebuah kotak di dalamnya. Ku ambil kotak kecil berwarna merah tersebut, kemudian ku ambil sepasang cincin yang ada di dalamnya. Ku kenakan satu di jari manis tangan kananku dan satunya lagi di jari manis tangan kiriku.

Aku tertawa kecil melihat pemandangan di kedua tanganku ini. Beberapa orang yang ada di sampingku melirik ke arahku tapi aku tak mengacuhkan mereka. Biarlah apa yang ada dalam fikiran mereka cukup mereka sendiri dan tuhan yang mengetahuinya.

Ku coba untuk melepaskan cincin yang ada di jari tangan kiriku, tapi sepertinya benda itu sangat mudah ketika dipasang tapi cukup sulit untuk dilepaskannya. Dengan sedikit tenaga akhirnya aku berhasil melepas cincin tersebut sekaligus menjatuhkannya ke lantai. Cincin itu menggelinding di lantai dan berhenti di kaki seorang pria paruh baya,

“mau tunangan ya dik.?”

“iya pak” jawabku dengan senyuman yang ku buat semanis mungkin.

“pantes seneng banget” lanjutnya.

Aku hanya bisa nyengir kuda mendengar kata Bapak itu.

“bertunangan….ah mungkin lebih dari itu” batinku. Aku mencoba melepas cincin yang satunya lagi.

Aku menggenggam erat ke-dua cincin itu sampai pluit kapal ini kembali berbunyi pertanda kapal sedang mendekati dermaga dan akan segera sandar.

Beberapa lama kemudian orang-orang di kapal ini sudah mulai meninggalkan tempat duduknya sementara aku masih belum bergeser dari posisiku. Terlihat anak-anak koin berenang kesana kemari sambil melambaikan tangan kearah kami di kapal.

Ku lirik kedua cincin di genggamanku kemudian ku lemparkan ke salah satu anak koin yang telihat paling kecil diantara gerombolannya.

Jika memang ke-dua atau salah satu dari cincin-cincin itu ditemukannya berarti itu memang rezekinya yang di titipkan tuhan padaku. Cincin-cincin itu ku beli dengan menyisihkan sebagian dari penghasilanku selama ini. Pengorbanan sia-sia entah yang keberapa kalinya aku lupa.

Tapi jika memang cincin-cincin itu tak ada yang menemukannya, maka biarlah cincin-cincin itu tenggelam dalam birunya lautan. Tenggelam bersama cintaku, tenggelam bersama semua kenangan ini.

Cinta itu sederhana, jika keduanya saling cinta, maka keduanya akan saling usaha. Apabila hanya diriku saja yang berusaha sudah dapat di katakan bahwa dia sama sekali tidak mencintaiku.

Aku segera berlari menuju tempat dimana sepeda motorku diparkirkan di geladak kapal ini.

Keluar dari kapal ku tinggalkan selat sunda dengan kecepatan tinggi. Biarlah selat itu menjadi pemisah, karena memang itulah gunanya selat. Kutinggalkan selembar kisah ini untuk melanjutkan lembaran kisah-kisah lainnya yang tertunda.

Suatu saat nanti mungkin kau akan merasa kehilangan diriku yang tak seberapa ini. Bila saat itu tiba jangan pernah kau mencariku, karena aku sudah tak ada lagi di hatimu. Cobalah tanyakan padahatimu sendiri seberapa berharga aku bagimu, jangan pernah bertanya seberapa pantas kau mendampingiku.

Selamat jalan mawar.

Aku selalu bersedih melihatmu layu sebelum berbunga.

Ending…

 

diawali dengan senyum

dilalui dengan pilu

diakhiri dengan air mata..

semoga kau tau itu bunga

semoga kau baca ini mawar

semoga kau mengeti rasa ini

semoga saja harapan ini tak berakhir seperti ini

penantianku sudah berakhir….perjuanganku sudah tamat

ini adalah lembar terakhir dalam kisahku

untukmu mawar ketahuilah

ini perjuanganku dan ini penantianku

walau semua ini tiada berarti di hadapanmu

tapi lembar demi lembar cintaku padamu tergambar jelas disini

biarkan aku mengakhiri semua ini

jika kau memang masih tak peduli

biarkan aku menyelesaikannya

Datang dan temuilah aku malam ini. dekaplah aku disisimu.

Dan jika kau tiada berkenan melakukannya.

Izinkan aku memeluk erat pedihnya cinta ini.

Original Post by : https://plusmassal.wordpress.com

            Ttd.

Joe_Ncl