Kesempatan Ke-Dua

September – 2012

Jangan pernah berfikir hidupmu telah menang setelah apa yang kau nantikan sekarang kau dapatkan. Hidupmu sebenarnya sedang berada di ujung jarum. Jika kau goyah maka kau akan kembali terjatuh.

Teringat sahabatku dulu ada yang memberi sedikit nasehat “manusia yang itu cuma dikasih hidup cuma sekali, maka manfaatkanlah hidupmu. Manusia juga cuma dikasih kaya sekali, maka berbuat baiklah”.

Tapi apakah manusia juga hanya diberi cinta satu kali saja? Seperti aku yang hanya mencintai dia saja? Apakah cinta hanya memberi satu kesempatan saja? Seprtinya tidak. Aku yakin dia masih memberiku harapan. Harapan yang seharusnya tidak pernah dia berikan padaku. Karena harapannya hanyalah harapan belaka.

“Aku mencintamu dek” kataku pada mawar ketika. Mawar hanya berdiri terpaku di hadapanku “adek juga mencintai kakak”.

“akankah kita seperti ini selamanya” ia melanjutkan kata-katanya.

“kakak tak dapat pastikan tapi kakak akan janjikan itu untukmu”.

Janji tinggallah janji. Janji ada untuk diingkari bukan seperti peraturan yang dibuat untuk dilanngar. Aku menjajikan cintaku padanya tapi dia sendiri tak merelakan cintanya untukku. Cinta yang bertepuk sebelah tangah itu seperti menulis cerita menggunakan air terlihat sekilas lalu hilang.

Semua yang ku lakukan untuknya pada akhirnya hanyalah kesia-siaan belaka. Dia tak pernah tau bagaimana aku mencintainya dan tak akan pernah tau seperti apa aku mencintainya. Ketidaktahuaanya bukan karena aku tak menceritakan semuanya padanya. Tapi karena dia tak pernah mendangarkanku karena cinta. Aku tak tau apa yang dia takutkan padaku. Aku normal, dengan sangat tegas aku katakan aku normal.

Sepertinya memang tak ada kesempatan kedua bagiku darinya. Aku tak pernah melihat tanda-tanda bahwa dia mencintaiku. Yang aku rasakan setiap hari adalah harapan palsunya yang memberi kekosongan dalam hidupku.

“mawar jika kau ingin mendengarkanku dengarkanlah dengan cinta, jika kau ingin mengingatku ingatlah dengan cinta, jika kau ingin memakiku makilah denga cinta. Karena aku mencintaimu dan tak ada keraguan tentangmu”. Tak pernah ada jawaban setiap kali aku meyakinkan padanya betapa aku mencintainya.

Aku sudah tak mendapatkan kesempatan itu. Padahal jin dalam botol saja memberi tiga permintaan, “mimpi…”.

Dia tak pernah tau bahwa aku selalu menanyakan kabarnya setiap saat pada sarah, sahabatnya. “bagaimana kabarnya” pada suatu saat ketika aku menelpon sarah. Setiap aku menelpon ataupun sarah yang menelponku tak pernah aku telat menanyakan kabarnya. Tak pernah absen aku ingin tau dia sedang apa, sudahkah dia makan. Aku peduli dengannya tanpa dia ketahui.

Sampai pada suatu hari dibulan oktober. Masalah silih berganti menerorku. Aku sampai kehabisan akal untuk menyelesaikannya. Aku hanya ingin mengakhiri ini semua, walau dengan mengakhiri hidupku juga.

Aku berada di kota tangerang saat sarah memberikan suatu solusi dari masalah pelik yang sedang ku alami. “dia gak mau ada yang ngajak dia balikan, tapi dia mau ada yang ngajak dia nikah” kata sarah disela obrolan kami.

“menikah?” sesungguhnya aku tak terlalu kaget dengan itu. Asal dia tau segala sesuatu telah ku persiapkan untuk satu hal ini. Maka tanpa buang waktu ku hubungi mawar. Aku tak ingin mengajak balikan seperti yang saran dari sarah tapi aku langsung memintanya untuk dapat menikah denganku. Untuk dapat menyempurnakan rakaat shalatku.

Pada awalnya dia terkejut dengan permintaanku, tapi akhirnya dia mau juga menerima ajakanku untuk menikah. Tanpa dia sadari aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuknya.

“adek janji adek bakal setia ama kakak”. Entah itu kali keerapa dia membuat janji janji palsu. Seperti janji wakil wakilku di kursi sana. Negeri ‘bebas’ korupsi. Maksudnya munkin bukan terbebas dari korupsi tapi ‘bebas’ melakukan korupsi. Hanya tuhan yang tau.

Kembali ke mawar, entah sudah keberapa kalinya juga dia memutuskan tali yang sudah semakin pendek karena terlalu banya sambungan disana sini.

Aku tak pernah mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan bagaimana aku mencintainya. Mungkin dia sudah menutup pintu hatinya. Mungkin dia sudah tak membutuhkan penjelasan lagi. Mungkin dia sudah tak ingin aku cintai lagi.

Aku mencoba memantapkan diri, “oke, aku siap. Aku lebih dari siap sekarang”.

“kan ku gapai bintang. Itu yang kan kau lihat. Hidup bagai coretan di atas kertas, jenis tinta apapun kau pakai tetap membekas. Tak ada sesal karena ku pernah mengenalmu. Jadikan alasan kita tuk membuka lembar yang baru. Ku tatap langit, bebas lepas tanpa intrik. Jika memang lembarku habis tak berbisa, ku harap masih ada asa walau bukan cinta”. Sebuah lagu dari rapper asal palembang, nesto namanya jika aku tak salah, menemani ku malam ini.

Original Posting by : https://plusmassal.wordpress.com