Pekerjaanku

September 2010 – Mey 2012

hari ini akan ku mulai babak baru pencarian cintaku.

Setelah shalat jum’at ku langkahkan kakiku dengan gagah.

Hari ini akan ku arungi lautan.

Aku yakin aku dapat menemukanmu bunga.

Dalam perjalanan yang melelahkan.

Diguyur hujan diterjang panas.

Dihempas macet yang tiada pernah ku bayangkan.

Dalam kebimbangan hati yang menjadi.

Tertanam semangat daya juang untuk kehidupan kedepan yang lebih baik.

Hari ini perjalanan berakhir pada suatu mlam tanpa rembulan.

Tertutup mendung awan.

Tapi aku yakin.

Aku dapat menemukanmu bunga.

Aku yakin itu.

Karena tiada keraguan akan cinta yang telah kau semai selama 2 tahun 1 bulan 10 hari.

Takkan ku relakan ragu menghampiriku.

Takkan ku biarkan jarak membuat cintaku tak berarti.

Takkan ada yang bisa menghalangi kekuatan cintaku yang berkobar membara.

Satu kata.

Satu tujuan.

Satu semangat.

Satu harapan.

Dan Satu Cinta.

Bunga…tunggulah aku menemukanmu.

Disaat malam dihiasi ribuan bintang.

Disaat malam dihadiri rembulan.

Disaat malam itu akan ku hapus air mata menjadi senyuman.

Aku janji.

Kau hanya akan bahagia bersamaku.

Aku yakin itu.

Tunggulah aku.

Karena aku mencintaimu.

Dan tak ada keraguan akan cintaku.

*****

“selamat pagi dunia” sapaku pada dari lantai dua rumah pamanku.

Di rumah ini rencananya aku akan tinggal sementara sampai aku mendapatkan sebuah pekerjaan dan mempunyai cukup uang untuk menyewa sebuah kamar kontrakan sendiri.

Hari ini adalah hari pertamaku kerja di sebuah perusahaan kaca.

Aku masih mencoba menghubungi teman yang tau keberadaan mawar. Tapi semua berakhir hampa dan aku galau lagi. Tapi ternyata lagi-lagi manusia punya rencana tuhan yang berkehendak. Tanpa aku duga sebelumnya, kala itu aku sedang istirahat siang dikantin. Bersama teman-teman yang lain kami mencoba menelan menu yang disediakan walau bagiku ini seperti bukan makanan, bahkan lebih enak makanan kucing daripada makanan yang kami makan sekarang. Tapi mau tak mau inilah yang harus kami masukan ke dalam perut untuk menambah sedikit tenaga kami yang telah terkuras. Ku coba membuka akun facebook ku “Jjoe Cendiry AgEe” ada sebuah permintaan pertemanan dari akun “mawar si bungsu”. Pertama ku lihat mungkin salah seorang pengguna facebook yang menggunakan nama akun mawar, bukan mawar yang ku cari selama ini. Tapi jika tuhan sudah berkata “Terjadi” maka terjadilah. Setelah aku periksa photo profile maupun koleksi photo akun tersebut memang benar, dia adalah mawar yang ku cari selama ini.

Sautu keajaiban bagiku, setelah aku mencari kesana dan kemari ternyata aku menemukan mawarku melalui jejaring sosial facebook. Pertama aku memang kurang yakin jika facebook itu ada gunanya, karena aku sendiri secara pribadi membuat akun facebook hanya untuk mengikuti mode saja.

Orang-orang bilang “hari gini gak punya facebook, apa kata mark zuckerberg”.

Melalui inbox ku tanya kabarnya dan segala sesuatu yang ingin ku ketahui tentangnya. Ternyata cukup lama juga menunggu balasan inbox darinya. Setiap hari bahkan hampir tiap jam aku buka facebook untuk melihat balasan itu, tapi ternyata setelah hampir seminggu baru ia membalas inbox dariku. Dan saat itu semuanya sudah hampir terlambat.

Tanpa ku perhitungkan sebelumnya belum genap sebulan aku bekerja disini, aku sudah tertimpa musibah. Sebuah kecelakaan kerja yang hampir saja membuat lengan kananku di amputasi. Lenganku masuk kesebuah mesin washing atau mesin untuk memcuci kaca. Karena kelalaianku ataupun kelalaian senior yang kurang memperingatkanku atas bahaya dari mesin-mesin disini. Beruntung luka yang ku derita tak cukup parah (sebenarnya parah juga karena harus menjalani 2 kali operasi plastik, tapi setidaknya itu tak membuatku kehilangan lengan kananku ini untuk selamanya).

Hampir seluruh anggota keluargaku menyebrangi selat sunda untuk menjenguk keadaanku. Aku juga sudah memberitahu mawar akan keadaanklu, aku berharap dia bisa datang menemaniku. Tapi sepertinya dia sudah tak peduli lagi denganku, dia sama-sekali tidak datang, hanya beberapa sms aja yang ia kirim untuk memberiku dukungan moral. Aku mau lebih dari itu, tapi aku mungkin terlalu berharap kepadanya.

Seminggu lebih atau tepatnya 11 hari aku dirawat di rumah sakit umum daerah tangerang. Dan dokter sudah mengizinkanku pulang, sebenarnya karena aku yang memaksa ingin pulang. Aku tak mau menjadi beban di keluargaku. Perusahaan hanya mampu menanggung sebagian dari biaya pengobatanku, sebagian lagi menggunakan uang gajiku dan sumbangan dari kerabat. Aku tak mungkin melanjutkan kerja dengan kondisi seperti ini. Beruntung perusahaan memberi sedikit kelonggaran dengan mengizinkanku cuti selama sebulan di kampung halamanku.

*****

Aku sudah tiba lagi di rumahku yang baru ku tinggalkan selama 3 bulan. Ku sempatkan diri untuk mengunjungi abdul di rumahnya. Ku ceritakan semua yang ku alami, ku ceritakan bahwa aku nekat menyebrang ke pulau jawa untuk mencari mawar. Walau aku tak pernah sekalipun menyalahkannya atas apa yang aku alami. Aku mencintainya sungguh mencintainya walau kini ia tak mencintaiku lagi.

Sebulan rasanya bukan waktu yang sebentar untuk menghabiskan waktu di kampung halamanku jelas sangat menjemukan tapi 3 tahun juga bukan waktu yang sebentar untuk menantikan bunga yang hilang. Bunga itu kini telah jauh, dia telah meninggalkan sebuah luka yang mendalam.

Aku masih berjuang untukmu bunga. Aku masih menunggumu untuk kembali ke pelukanku. Aku masih menanti saat-saat kita bersama melewati kerasnya hari, dan aku akan selalu merindukan itu semua.

Saat aku kembali ke kota tangerang, aku masih diterima bekerja diperusahaan kaca itu. Tapi kali ini atas dasar pertimbangan kondisi fisikku, manager memberikanku tugas yang ringan-ringan saja. Mulai dari hanya menyusun kertas, aku juga pernah di tempatkan di bagian cermin, sampai kembali menjadi operator mesin. Disaat aku menjadi operatot itu aku mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Tak jarang kami berbagi kisah hidup disebuah ruangan kedap suara yang berisi 4 orang ini. Aku menceritakan kisahku dengan mawar kepada semua rekan kerjaku dan mereka menanggapinya dengan antusias.

Lain hari lain cerita, masalah tak kunjung ingin sesegera mungkin meninggalkanku. Dengan gaji yang sangat pas-pasan kini kondisiku sering sakit. Alhasil aku sering absen tak masuk kerja dan prestasiku di perusahaan dipertanyakan.

Hampir tiap malam aku memikirkan mawar, hampir tiap malam juga aku memimpikannya. Rasa rinduku mungkin tak tersampaikan kepadanya. Seluruh nomer yang ia berikan kepadaku sudah tak dapat dihubungi.

Aku kesepian dan sangat kesepian. Setiap malam aku hanya bisa berdo’a kepada tuhan agar segera bisa dipertemukan dengan mawar.

Sebuah surat pengunduran diri aku layangkan ke perusahaan. Ini semua ku lakukan karena lambat laun, pelan tapi pasti aku akan dikeluarkan dari perusahaan ini. Sebuah surat lamaranpun aku tujukan kepada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang cat.

“kapan mulai bergabung dengan kami” nada bicaranya sangat enak di dengar. Semua anggapan bahwa interview di perusahaan ini adalah seperti sedang manghadapi macan lapar terhapus sudah.

“minggu depan boleh bu” kataku meminta sadikit kelonggaran.

“oh, tentu saja boleh” dan Hrd-ku memberi pengarahan untuk apa-apa yang harus ku lakukan ketika aku mulai bergabung dengan perusahaan ini, aku ditempatkan dibagian retail.

Ku hapus semua luka lama dipekerjanku dulu, aku berharap mendapat penghidupan yang lebih layak sekarang. Bekerja sebagai sales ternyata memberikan tantangan beruntung dulu aku pernah menjalani hari-hari yang seperti ini. Aku mencoba sedikit fokus ke pekerjaan yang aku geluti sekrang sesekali meluangkan waktu untuk menulis.

*****

kriiiing…kriiinggg…..kriiiiiiiingg, alarm di kamarku berteriak sangat keras dijamin tak ada orang yang tak bangun jika mendengar jeritannya. Udara pagi itu mendukung sekali untuk melanjutkan mimpi yang tertunda. Ku raih jam alarm itu dan ku matikan. Baru saja aku hendak menjatuhkan tubuhku ke kasur handphoneku berbunyi.

“siapa sih pagi-pagi nelpon” ku lihat jam dinding di kamarku masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.

“halo, selamat pagi” kataku

tak ada respon dari seberang.

“halo, selamat pagi. Dengan siapa ini?” ku ulangi pertanyaanku, tapi tetap tak ada tanggapan dari si penelpon.

Ku putus telpon itu dan segera menonaktifkan handphoneku.

Hujan turun dengan sangat lebat ketika aku keluar dari kamar mandi. Ku masuki kamarku dengan badan yang menggigil hebat.

“ngopi enak nih” batinku. Ku panaskan air di dispenserku dan ku nyalakan kembali handphoneku. Belum satu menit handphoneku aktif sudah ada tiga sms diterima. Ku perhatikan nomer pengirimnya “ah, nomer yang tadi pagi”.

Semua isi sms itu sama yaitu berbunyi : ka^ .

Gaya sms yang sangat ku kenal, ini seperti gaya sms-nya mawar “ah, tidak mungkin” batinku menolak untuk meyakini bahwa si pengirim pesan tersebut adalah mawar.

Maka ku balas dengan gaya khas aku membalas sms : iya ^_^

Ku hisap rokokku sambil menikmati secangkir kopi hitam yang cukup kental, ditemani hujan yang belum mau berhenti menambah suasana makin bersahabat. Ku coba untuk log in ke akun facebookku dan menulis sebuah status : “aku ingin tadi adalah kamu, karna kopiku terasa manis dengan sendirinya. Semanis rasa cintaku yang tak terbalaskan”.

Hari ini sudah hampir genap dua bulan aku di kota ini. Selama itu pula hampir tiap hari aku mencari informasi tentang keberadaan mawar. Bertarung dengan kesibukanku sebagai seorang karyawan swasta.

“mawar, aku yakin sebentar lagi kita akan berjumpa” kataku dalam hati sebelum aku berangkat kerja pagi itu. Hujan telah berubah menjadi gerimis kecil, dengan sedikit berlari aku menuju tempat kerjaku.

Aku berlari-lari kecil menyusuri jalan becek, sedikit sesal dalam hati karena tak mengendarai motor saja. Aku tak mau menjadi orang yang pemalas, jarak dari rumah kontrakanku ke tempat kerja hanya sekita 250 meter atau hanya setara 10 menit jalan kaki. Aku melompati sebuah genangan air, “sreeeeeeeeet…bruuuuuk” aku terjatuh tak ayal lagi seluruh pakaian yang ku kenakan basah kuyup.

“aah, sial” runtukku dalam hati.

“kakak masuk dulu yuk” hujan siang ini cukup membuat badanku menjadi basah kuyup.

“ada baju ganti gak?”

“nanti pake baju abah aja ya” apa mau dikata, bajuku memang basah semua, tak mungkin ku lanjutkan perjalanan ke rumahku. Alhasil aku mengenakan pakaian abahnya mawar.

“kwok kwok kwoook, kok mirip bocah mau sunatan gini dek” baju yang ku pakai memang sedikit besar dan celananya juga kebesaran, sesekali ku naikkan celana itu agak tak melorot.

Mawar menahan tawa, telihat mukanya memerah kuning hijau di langit yang gelap. Di rumahnya aku di jamu makan siang. Selesai makan kami duduk di beranda rumahnya (bukan beranda facebook lho) ngobrol santai dan bercanda sedikit sampai meledak tertawanya yang mengerikan itu.

Air hujan jatuh di daun mangga di depan rumahnya menetes diatas bunga mawar putih. Terlihat sangat indah bunga itu dengan bintik-bintik air hujan di daunnya.

“dek hujannya udah reda nih, kakak pamit pulang ya” kataku.

Hujan membuatku tertahan sedikit lama di rumah ini. Matahari sudah bersiap masuk ke peraduannya. Burung-burungpun terbang berbondong meunju ke hutan yang lebat. Aku mencintanya walau tak seperti hujan yang membawa kehidupan di bumi, aku yakin bahwa cintaku membawa hidup yang lain yang akan ku persembahkan kepadanya disuatu saat nanti.

“iya kak, hati-hati di jalan” ia memperingatkanku.

Ku pegang erat tangannya, aku masih ingin berlama-lama disini. Aku masih ingin terus memandang senyumnya yang manis. Ku kecup punggung tangannya penuh cinta. Ia dekatkan mukanya ke arahku, ia pejamkan matanya, aku dekatkan bibirku ke bibirnya.

“mas..mas..bangun mas” kata suara lelaki setengah baya yang mengenakan pakaian security.

“eh iya” jawabku kaget.

“kirain pingsan tadi abis jatuh, ternyata ngelamun toh” lelaki itu membantuku bangkit.

Aku meninggalkan lelaki itu setelah mengucapkan rasa terimakasih. Mukaku sedikit memerah menahan malu.

Aku kembali ke kamar kontrakanku untuk berganti pakaian dan membersihkan badanku. Sedikit terlambat aku sampai di tempat kerjaku. Pada mendung yang menggantung di langit ku gantungkan pula harapanku agar bisa secepatnya bertemu dengan mawar.

Air hujan yang berjatuhan seperti menggambarkan air mataku yang menantikan hari kebersamaanku dengannya. Aku sudah sangat menantikan keadaan yang seperti itu.

Air mataku telah jatuh dalam penantian yang tiada berujung. Hatiku telah lama kosong tak berisi, karena cinta ini hanya akan ku berikan kepadanya bukan untuk orang lain. Aku ingin ia mengerti bahwa aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya seperti apapun keadaannya.

Original Post by : https://plusmassal.wordpress.com