Bakahueni Merak

Mey 2010

            Matahari tak bersinar pagi ini. Penduduk kampungku juga tak banyak yang sudah melakukan aktivitas di luar rumah. Sebagian besar dari mereka memilih untuk berdiam diri dalam rumah masing-masing. Hari ini rencananya aku dan seorang kakak sepupuku akan melakukan perjalanan menuju kota tangerang.

“demi hidup yang baru” kataku dalam hati. Seluruh barang-barangku sudah aku kemas semalam. Aku sudah siap berangkat, tapi sepupuku belum kunjung datang.

Ibuku mencoba menenangkanku “masih pagi joe, mungkin nanti agak siangan berangkatnya”.

Aku tak menjawab. Tapi dalam hati sebenarnya aku sudah ingin segera berangkat. Bagi sebagian pemuda di daerahku mengadu nasib ke pulau jawa adalah sebuah impian. Kami ingin merubah nasib kita dari buruh kebun menjadi buruh pabrik. Sebenarnya tak ada yang berubah toh sama-sama buruh. Hanya mungkin yang membedakan adalah upah yang kami terima.

Aku tak menyadari jika ibuku sedari tadi memperhatikanku.

“gak sabar ya?” katanya meledekku. Aku tersenyum kecut diledek sedemikian itu. “aku pasti akan sangat merindukanmu bu. Tapi aku juga sudah sangat merindukannya” gumamku.

Sudah hampir pukul sembilan. Hujan tak juga reda. Aku semakin gelisah saja. Aku merenung di dalam kamar memandang jauh keluar jendela. Aku masih berandai andai apa yang akan dan harus ku lakukan di tanah rantau nanti.

Pintu kamarku di ketuk perlahan dari luar. Ternyata ibuku memberikanku secangkir the hangat, “untuk menghangatkan badan” katanya.

Ku teguk teh hangat buatan ibuku tadi. Alirannya menghangatkan kerongkonganku, melaju di dada kemudia tenggelam di lambungku. Hawa dingin masuk ke dalam kamarku melalui lubang angin di jendela. Sudah bukan rahasia umum lagi jika cuaca sedang dingin begini pasti bawaannya pingin ke belakang alias buang air kecil melulu. Begitu juga yang terjadi denganku pagi ini.

“aku berangkat dulu ya Bu, Pak”.

Aku menjabat tangan ibu dan ayahku bergantian, kemudian aku peluk adikku yang paling kecil dan terakhir aku berpesan kepada adikku yang paling tua “jaga adikmu, jaga juga ibu dan bapak. Jangan lupa kau rawat kebun”.

Aku berboncengan sepeda motor dari kampung menuju tangerang “aku berangkat” ku lambaikan tangan kepada keluargaku.

Karena barang bawaanku dan barang bawaan sepupuku cukup banyak atau bisa dibilang terlalu banyak juga. Alhasil aku duduk di besi jok belakang sepeda motor yamaha mio sepupuku. Perjalanan baru lima puluhan kilometer pantatku sudah terasa ngilu sekali.

“wah sepertinya akan turun hujan lagi nih” kata sepupuku dari arah depan.

Aku hanya bisa mengiyakan sambil menahan ngilu yang semakin menjadi. Bahkan sebenarnya aku berdo’a agak turun hujan karena aku sudah tak tahan lagi.

Hujan memang turun cukup deras siang itu sekitar pukul sebelas siang. Saat itu kami sudah menempuh perjalanan hampir seratus kilometer.

“alhamdulillah” kataku pelan. “lho…?” sepupuku kebingungan karena aku terlihat sangat senang kami diterjang hujan di perjalanan.

“pantatku sakit. Dari rumah gak dapet duduk di jok. Tapi duduk di besi” kataku sambil memegang bokongku.

Dia malah tertawa terbahak. “sialan” ku pukul dadanya pelan. Kami tertahan di depan sebuah bangunan yang baru dibangun. Selain kami ber-dua ada sekitar enam orang pengendara motor juga yang ikut berteduh di bangunan ini.

Setelah hujan cukup reda kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami sampai di pelabuham bakauheni lampung sekitar pukul satu siang. Tanpa menunggu antrian motor kami bisa langsung masuk kapal.

Sesampainya di kapal kami langsung membuka perbekalan yang kami bawa. Panggilan alam untuk segera menyantap seluruh perbekalan yang ada. Ditambah lagi cuaca hari ini yang sangat membuat perut cepat merasa lapar.

Gerimis menemani perjalan kami. Aku hanya menikmati pemandangan laut dari jendela kapal. Aku tak mau bajuku basah oleh air hujan “andai kau sekarang bersamaku mawar”.

Sepupuku datang menghampiriku yang sedang melamun dibalik jendela kapal ini “kenapa ngelamun joe?”.

“ah…, gak ada apa apa kok mas” kataku. Sebenarnya sih ada apa apa. Aku sangat rindu. Sangat merindukan mawar, perempuan yang selama ini ku cari untuk mengisi kembali singgasananya di hatiku.

Aku berteriak keras sebelum kami meninggalkan pelabuhan merak “Mawaaaar….Tunggu aku menemukanmu”. Dan aku berharap semoga semuanya belum terlambat.

Gerimis masih setia menemani perjalananku sampai di kota tangerang. Aku baru tau ternyata kendaraan di kota besar itu tak pernah ada habisnya walau langit sedang tersedu. Perjalanan dari merak sampai tangerang semestinya cuma tiga jam tapi karena macet yang berlebih perjalan kami tempuh selama hampir enam jam. “gila ini sungguh gila”. Aku tak pernah menyangka perjalananku sesulit ini.

Pengalaman yang ingin ku bagikan kepada kalian adalah : jangan melakukan perjalanan jauh tanpa persiapan, apalagi jika menggunakan sepeda motor. Terlebih jika kalian berboncengan dan kalian yang di bonceng duduk di besi jok belakang. Itu sungguh menyiksa dan membuatmu tak dapat duduk semalaman.

Original Post by : https://plusmassal.wordpress.com