Pantai Klara

November 2008

Pada pertengahan bulan november 2008, bertepatan dengan hari jum’at. Hari yang penuh barakah bagi umat Islam. Seperti biasa hari itu aku menjemput mawar di sekolahnya.

Hari itu cuaca begitu panas, aku berteduh di bawah pohon melinjo yang banyak tumbuh  di dekat sekolahnya. Biasanya dia pulang pukul 11:30 tapi aku sudah sampai dsana setengah jam sebelum dia keluar.

Menunggu adalah hal yang paling menjemukan di dunia. Baru seperempat jam aku menunggu kakiku sudah berasa pegel semua. Ku putuskan untuk menunggunya di sebuah gardu yang berjarak sekitar 200 meter dari gerbang sekolahnya. Sambil menunggu lagi ku pasang headset di telingaku, ku putar lagu2 Bondan Prakoso. Ku hisap sebatang rokok untuk menemani panasnya hari. Sudah hampir setengah jam waktu berlalu, tapi mawar tak kunjung datang. Aku yang menunggu sudah mulai merasakan jenuh menyerang.

“hmmmm…balik jam berapa sih.?” gumamku dalam hati

“udah lama kak.?” suara dibelakang mengagetkanku

“belum dek, baru sejam kok” jawabku ngasal.ternyata itu mawar, gadis yang ku tunggu.

“mau pulang sekarang.?” tanyaku

“gak…besok aja” jawabnya ketus

“yaelah ditanya juga”

“lagian, udah tau mau pulang pake nanya”

“ya kan udah mau shalat jum,at dek” kataku menerangkan

“cukupkan setengah jam.?” dia memojokkanku

“iya, cukup” kataku pelan

perjalanan kami memang sebenarnya hanya setengah jam saja, akan tetapi karena jika bersama dia aku hanya bisa memacu sepeda motorku dibawah 40 km/jam, jadi ya waktu yang setengah jam bisa sampai satu jam perjalanan.

Dipertengahan jalan kami mampir dulu di sebuah indomart, aku berniat membeli minuman dingin dan dia membeli sebuah makanan ringan. Perjalanan kami lanjutkan hingga melewati sebuah jalan di pinggir pantai. Angin pantai berhembus seolah menghapus cuaca panas yang sedari tadi tak mau pergi. Ku perlambat laju motorku, memandangi pohon-pohon kelapa yang melambai dan menari.

“panas nih, mampir dulu ya” pintaku

“Lho, katanya mau jum’atan.?” katanya mengingatkanku akan hari ini

“iya tapi udah telat nih, gak bakalan sempet pula, daripada panas-panasankan” aku mulai merayu

dia tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan, maka ku putuskan untuk bersantai dulu di pantai ini. Keputusan yang membawaku tak dapat melupakan mawar sampai saat ini.

4 tahun lebih ku simpan dalam kenangan tak terlupakan, 4 tahun lebih keindahan ini tetap berbuga seperti mawar yang tak pernah layu, 4 tahun lebih….yah 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah penantian.

Kala itu kami duduk di dahan pohon randu yang cukup tua, memandangi lautan yang luas.

Di hadapan kami ada sebuah batu sebesar sebuah mobil sedan, mungkin lebih besar lagi. Di batu itu kami bercanda ria tanpa menghiraukan sengatan matahari yang membara membakar kulit-kulit kami yang gelap. Dalam hati ini tak akan pernah ku lupakan semua kenangan itu.

Setelah cukup lelah kami bermain, kami kembali beristirahat di pohon randu itu lagi.

“capek juga ya” kataku mengawali perbincangan

“iya udah seperti anak kecil” dia berkata dengan sebuah tawa kecil menghiasi pipinya

“apa kita akan selalu begini sampai tua.?” pertanyaanku menghentikan tawa kecil itu, menghilangkan senyum manisnya berganti dengan sebuah kerutan di jidatnya menandakan ia sedang berfikir.

“kita jalani aja ya” ia kembali tersenyum

“tapi aku menyayangimu, sungguh menyayangimu” kataku

“dan aku tak pernah meragukan itu” katanya menyambung kata-kataku

ku pandangi wajahnya yang imut, ku bisikan sebuah kata di telinganya

“aku menyayangimu, sungguh menyayangimu dan tak ada keraguan akan rasa ini”

ku kecup jidatnya dengan lembut. Lalu tanpa membuang banyak waktu pula ku kecup bibirnya yang manis. Kami saling melumat bibir cukup lama, sekitar sepuluh menitan sampai kami kehabisan nafas.

Pada hari itu telah ku lakukan dosa yang cukup besar bagiku. Telah ku langgar perintah tuhan untuk memenuhi nafsu setan yang bersemayam di otakku, tapi Cintaku padanya bukan berlandaskan itu. Cintaku padanya tulus lebih dalam di dalam hati ini, jujur lebih murni dari lautan yang selalu berlapang dada menerima semua sampah yang hanyut dari daratan bersama aliran sungai.

Aku mencintainya.

Sungguh mencintainya.

Dan tak ada keraguan akan rasaku ini.

Sampai saat ini aku tetap mencintainya.

Walau kini ia sudah tidak bersamaku lagi.

Karna aku mencintainya setulus hati.

Mawarku ketahuilah…

kau telah tertanam dalam hatiku…

akarmu telah menembus seluruh isi cintaku…

tak ada kata-kata yang indah yang bisa ku ungkapkan kepadamu…

karena kau mawarku…

selalu menjadi yang paling indah dalam hidupku…

hanya satu kata yang tak pernah bisa ku ucapkan kepadamu…

aku takkan pernah bisa berucap bahwa “aku melupakanmu”…

karena sampai kapanpun…

akar cintamu tetap tertanam rapi di setiap sel hatiku…

*****

Waktu terus berlalu. Kami melewati hari-hari bersama, walau tak selalu bersama. Kebiasaanku masih sama menjemput ia pulang dari sekolahnya. Atau terkadang mengantarnya belanja, yah namanya juga cewek. Tanpa terasa bulan-bulan telah berganti. Satu ingatan yang takkan pernah terlupakan yaitu hari jum’at di pantai itu. Ditemani angin pantai yang menghapus panasnya hari. Semua ingatan ini tak mungkin bisa hilang dari pikiranku dan aku rasa ia pun begitu.

“kok ngelamun kak.?” tanya mawar ketika aku hanya terdiam di gardu dekat sekolahnya. Disinilah aku hampir setiap hari menunggu ia keluar dari sekolah dan mengantarkannya pulang. Walau kami jarang bertemu dan kebersamaan kami hanya sebatas jalan yang dari sekolahnya ke rumahnya, tapi aku sangat menikamati itu semua. Aku bahagia walau hanya sepintas bisa melihat senyumnya yang manis mengembang di bibirnya, atau tawa riangnya yang tiba-tiba meledak menjadi sangat menakutkan. Aku menikmati itu semua tanpa terkecuali.

“yah…masih ngelamun dia” mawar lantas duduk bersebelahan denganku.

Hanya senyum yang aku berikan kepadanya, sebuah senyuman yang aku sendiri tak tau untuk apa aku tersenyum. Yang aku tau aku bahagia melihatnya duduk disampingku saat ini.

“mikirin apa sih.?” pertanyaannya memecah lamunanku.

“gak mikirin apa-apa kok dek” jawabku

“ah, bohong. Tadi keliatannya serius banget sampai-sampai gak tau kalau adek udah lama duduk dibelakang kakak” katanya mengagetkanku

“emang udah lamanya ya” ku garuk kepalaku yang terasa sedikit gatal

“tu kan emang beneran gak tau”

yah…hanya aku hanya senyum-senyum sendiri menahan malu. Entah malu untuk apa, mungkin aku malu karena tak dapat memberikannya sesuatu yang indah. Tapi rasa cintaku padanya ini lebih indah dari apapun yang diciptakan manusia.

“mau pulang jam berapa kak.?”

“bentar lagi ya, masih panas bannget nih” kataku sambil memperlihatkan jam tanganku yang sedang menunjukkan pukul setengah dua siang.

“adek beli es kelapa dulu ya”

aku seakan tak memperdulikan kepergiannya. Tapi aku masih sempat melihatnya dari belakang. Dikejauhan terlihat dia melambaikan tangan kepadaku, aku segera membalas lambaian tangannya sebelum sebuah mobil colt mini diesel melaju dengan kencang.

Dan…..wuuuuuush.

Mobil itu lewat dengan sangat kencang. Terdengar juga anak-anak sma, mungkin teman-teman dari pacarku berteriak.

Aku sangat terkejut, segera aku berlari menuju kearah mawar. Ke dekati dia yang sedang berdiri di depan penjual es kelapa muda.

“kenapa dek.?” tanyaku setelah memeriksa keadaan mawar satu per satu bagian setelah ku pastikan dia tidak kenapa-napa.

“es-nya abis kak” katanya dengan nada sedikit kecewa

“oh, tadi anak-anak pada teriak kenapa.?”

“adek juga gak tau, sepertinya ada yang ulang tahun tuh” kata mawar sambil menunjuk ke arah salah satu temannya yang sedang dimandikan air berwarna biru, telihat juga telur dan tepung menghiasi rambutnya. “menyedihkan” desisku dalam hati.

Kami memutuskan untuk pulang saja walau kondisi jalanan lagi panas-panasannya.

“hari ini banyak ngelamunnya kak.?” tanya dara karena sudah hampir setengah perjalanan kami tempuh tapi aku hanya diam membisu. Sejujurnya ku sendiri tak tau apa yang sedang ku pikirkan.

“adek udah makan.?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“gak usah ngeless kakak lagi ada masalah ya.?”

“siapa juga yang ngeless, kakak gak kenapa-napa kok dek” jawabku mantap.

“kenapa dari tadi diem aja.? Kakak sakit.?” tanyanya lagi

“gak juga” jawabku

“dari tadi gak gak mulu, yaudah deh” terdengar suaranya yang sedikit kesal.

“yah ngambek, makan dulu aja yuk” aku sedikit merayu guna mencairkan keadaan.

Ditengah jalan aku berhenti di salah satu rumah makan langgananku. Aku makan cukup lahap karena memang dari pagi perutku belum terisi nasi.

“dek kemungkinan bulan depan kakak mau ke tangerang” kataku disela acara makan siang kami.

“mau ngapain kak.?” dia sedikit terkejut.

“kerja dek” kataku lagi.

“kerjaan kakak yang disini.?” dari raut mukanya terlihat jelas bahwa dia tidak setuju dengan rencanaku.

“kakak udah gak ada respect di situ dek” jawabanku merujuk pada sebuah perusahaan minyak nasional tempatku dan keluarga menggantungkan kehidupan.

“gak respect gimana.?” sepertinya dia belum terlalu paham keadaan, bahwa tempat usahaku yang bekerjasama dengan perusahaan minyak itu akan segera gulung tikar alias bangkrut.

“yaudah kita makan dulu aja, nanti kakak ceritain di rumah” kataku sambil melanjutkan menyantap dada ayam bakar kesukaanku.

“jadi ini yang membuat kakak murung seharian ini” katanya lirih.

Aku hanya sekilas memandang wajahnya, ku perhatikan bibirnya yang manis mengembangkan sebuah senyuman yang tak kalah manis untukku. Aku baru tersadar bahwa bibirnya yang imut itu semakin indah ketika dia kepedasan. Bibirnya terlihat merekah kemerahan, lalu ku balas senyumnya dan melanjutkan makan siangku.

Dalam perjalanan kami masih terdiam. Mungkin karena masih sama-sama belum menemukan tema yang tepat untuk dijadikan bahan obrolan. Kami terbawa pikiran masing-masing, tanpa ada sepatah katapun yang keluar sampai kami tiba di depan rumahnya.

“masuk dulu kak” katanya.

“di luar aja deh” kataku.

Kami duduk di beranda facebook (eh, beranda rumah maksudnya). Disini ku sampaikan semua apa yang menjadi unek-unekku, aku bercerita kesana kemari tentang tempatku bekerja sekarang dan apa yang akan ku lakukan jika aku jadi ke tangerang. Ku ceritakan semuanya tanpa terkecuali. Dan sepertinya ia menyadari itu, dan mawarpun mengizinkanku untuk pergi merantau.

“dek, kakak sayang banget ama kamu” ku tatap matanya yang hitam dan wajahnya yanng memerah kepanasan. Sungguh dia terlihat sedikit menyeramkan tapi aku mencintainya.

“adek juga sayang ama kakak” katanya pelan.

Ku kecup keningnya, dan aku berpamitan untuk pulang.

*****

Manusia punya rencana tuhan yang berkehendak. Rencananya aku yang akan pergi ke pulau jawa, tapi ternyata dia yang pergi kesana menduhuluiku. Dan pada bulan febuari 2009 tanpa sebab yang pasti mawar mengakhiri hubungan kami secara sepihak.

Aku tak tau apa salahku, bahkan sampai sekarangpun dia tak pernah memberi tahu.

Terlalu besar rasa Cintaku membuat keputusannya membuat sakit yang begitu dalam di hatiku. Tapi karna rasa cinta itu pula yang membuatku bertahan untuk merinduinya. Aku begitu mencintainya sehingga luka sebesar dan sepedih apapun yang ia berikan tak membuatku goyah untuk mencintainya. Aku terlalu bodoh untuk berhenti mencintainya.

Cinta dapat membuat manusia menjadi kuat tapi karena cinta juga manusia bisa mati. Mati denngan keputus asaan.

Dengan cinta yang begitu besar di hatiku. Aku bertahan untuk menunggunya kembali. Aku ingin saat saat indah yang pernah kami lalui terulang kembali. Karena aku belum siap dengan semua ini.

Mawar andai kau tau, aku begitu mencintaimu hingga hari hariku tiada berarti tanpa menyebut namamu dan malam malamku selalu memimpikanmu. Andai kau tau apa yang ku rasakan. Andai kau merasakan apa yang ku alami. Kau pasti tau apa itu arti cinta sejati.

Original posting by : https://plusmassal.wordpress.com