Episode : kenangan terakhirku.

Untuk cerita lainnya bisa dibaca di (Bolu Misterius)

” Bayang – Bayang “

Indah matamu menghambat laju suaraku.
Aku seakan terpatri pada dinding beton yang begitu kokoh.
Sekuat apapun ku berontak, sinar matamu melenyapkan semua tenagaku.
Wahai sosok tubuh yang begitu indah.
Apa kau tau begitu menderita diriku saat ini.
Bayang wajahmu yang begitu indah, seolah membawa tsunami yang menghantam hatiku yang terlalu lama kau tinggalkan sendiri.
Letusan api asmara tak dapat ku padamkan.
Sebuah garis Cinta itu datang tanpa pernah ku duga, dan aku mencintaimu.
Begitu cepat menebas, menorehkan sakit yang begitu dalam.
Secepat matahari bersembunyi di ufuk barat.
Perjumpaan yang tak pernah lebih dari seperempat siang, memberi makna betapa kau adalah sang bidadari yang tak mungkin dapat ku elakkan.

Bidadari yang menghiasi setiap mimpi dalam malam-malamku.
Hanya bayangmu yang tak bisa ku hapus secepat kau pergi meninggalkanku.
Secepat sebuah kedipan, dan senyum itu hilang.
Tapi aku yakin kau pasti mengerti bahwa rasa ini hanya untukmu, setidaknya untuk saat ini.
Bukan….!
Aku tak pernah menghianatimu, kaupun pasti mengetahui itu.
Karna kau pasti dapat melihat malamku yang dihiasi pilunya merindukanmu.
Yang bahkan terkadang air mata ini.menetes tanpa ku sadari.

Kau yang telah mengubah cara pandangku.
Hanya keindahan yang bisa ku lukiskan.
Untukmu bidadari saat senja maupun fajarku.
Matamu…
Bibirmu…
Hidungmu…
Elok tubuhmu…
Akan tetap menjadi mimpi indah dalam tidurku.
Walau kau tak mungkin bisa kumiliki selamanya.
Tapi kaulah bidadari untuk malamku.
Semua ini hanya untukmu…
Walau hanya untuk selembar warna…

>>> ANGGLE <<<

☆_DNR_☆


“Puisi ini hanyalah satu dari sekian banyak yang telah ku tulis untuk mengenangmu” aku berbicara sendiri didepan cermin seoalah ada anggle yang sedang menemaniku disana.
Akhir-akhir ini bayangannya begitu jelas bahkan terkesan nyata dan aku hanya bisa terdiam kala ia datang, kala ia tersenyum, karna aku tak tau apa yang harus ku lakukan.
Aku bahkan tak tau rasa apa yang ku alami, entah itu takut atau mungkin senang arau bahkan aku….
Aku sendiri tak tau.

Intinya malam ini aku hanya bisa berharap ia bisa menemani mimpiku malam ini.
Aku hanya bisa berharap karna memang hanya itu yang bisa ku lakukan.

“Sepi…?” Aku terbangun dari tidurku.
Tapi kamar ini terasa sangat sepi, seperti hanya aku yang ada di rumah ini.
Kemudian aku keluar kamar, tapi..?

“Terkunci…?”
Pintu kamarku terkunci, padahal tadi sebelum tidur aku tak menguncinya dan anak kunci yang biasa bergelantungan dipintupun raib entah kemana.
Aku berteriak memanggil ibuku, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutku.
Apa aku bisu…???
Aku berteriak sekuat tenaga, tapi memang pada kenyataannya tak ada suara yang dapat keluar dari mulutku hanya mulutku saja yang terbuka lebar.

Ku pandangi bintang lewat kaca jendela kamarku.
“Andai kau ada ang” desisku..

“Aku ada..dan selalu ada” sebuah suara terdengar sangat pelan dan begitu datar bagai desiran angin menjawab pertanyaanku

“Kau…kemarila” kataku. Karna tanpa menolehpun aku sudah tau siapa yang ada dikamar ini.
Walau aku tidur sendiri dan pintu terkunci.
Hanya “dia” yang bisa.

“Sudah lama ya.? Kita tak bersama. Duduk bersama di taman, ketika malam di hiasi 17 bintang. Aku rindu itu semua ang” ku lihat wajahnya yang pucat pasi, ku lihat kebekuan di bibirnya walau ia mencoba tersenyum.
Sudah tak ada gunanya lagi aku takut, karna dia memang ada. Benar-Benar ada disampingku saat ini.

“Kapan ke Kali Baru” ia bertanya tapi bicaranya seolah tak bernada.

Aku tak bisa menjawab pertanyaannya.
Karna aku yakin diapun pasti sudah tau jawabannya.
Ku hirup nafasku dalam, tapi ku rasa lain.

” DIA……”

Dia menghembuskan nafas..
Apakah ia juga bernafas.?
Tapi aku dengar.
Aku mendengar hembusannya yang keras dan berat itu.
Nafasnya terdengar lebih susah dari aku yang perokok kelas berat.

“Aku janji akan kesana, dan aku pasti memenuhi janjiku” kataku perlahan.
Lagi lagi ia tidak berkata apapun hanya senyumnya yang semakin lebar menghiasi wajahnya yang pucat pasi.

“Apa kau ingat ang, apa kau akan mengingat saat-saat kita sekarang ini jika kita bertemu di surga.?”

“Apa cintamu benar kepadaku.?”
Lagi lagi pertanyaan yang dia lontarkan tak dapat ku jawab.
Semua pertanyaannya seolah benar-benar jatuh tepat di hatiku.

“Berhati-hatilah dengan air dan angin” dia.berkata dan merasuk dalam kaca jendelaku.
Kini aku tak dapat memandang bintang malam ini secara jelas karna di dalam kaca.
Ya tepat di dalam kaca ada “dia”.

Dia kembali memperlihatkan senyumannya.
Tidak…!!
Sepertinya kali ini dia tidak tersenyum.
Senyumnya terlalu lebar untuk wajahnya.

Dan dia….
Dia mulai tertawa…
Tertawa dengan begitu keras…

Apa dia menertawaiku…???

Anggle menertawaiku…???

BUKAN…..!!!!

Dia Bukan ANGGLE….!!!

“Siapa kau..?” Kataku bergetar

“Aku anggle de, aku anggle yang kau tinggalkan, aku anggle yang kau BUNUH..!” Katanya dengan tawa yang semakin keras.

“Aku tak membunuh anggle, dan Kau… kau bukan anggle… pergilah dan jangan kau ganggu aku lagi” aku sudah tak.kuat menahan semua getaran dalam badanku

“Aku anggle de..aku anggle yang kau sia-sia kan”

Aku tak kuat menahan air mata dan tangisku.
Aku tak membunuh anggle.
Dan aku tak pernah menyia-nyiakannya.
Aku sangat mencintainya.

“Aku anggle de…ikutlah denganku jika kau mencintaiku”
Ketawanya seketika berubah menjadi isak tangis yang tersedu…semakin lama semakin menyedihkan.
Tangisnya melengking penuh kehampaan bagai srigala yang terpisah dari rombongannya.

” kau bukan anggle..aku tau kau bukan anggle”
Tubuhku terjatuh dibawah jendela.

“Aku anggle de..aku anggle”
Dia tertawa lagi..lebih keras dan sangat keras…lalu ia membentakku
“Aku Anggle”

“Bukan…!” Kataku keras.

“Kau bukan…angg..” kata-kataku terhenti karna aku sadar wanita itu tlah menghilang, dan keadaan kamarku telah kembali normal. Bahkan terdengar suara azan subuh dari kejauhan. Tapi aku tak bisa melupakan kejadia tadi..entah itu nyata atau hanya mimpi, yang jelas keringat telah membanjiri seluruh tubuhku.

“Hanya mimpi de” kata seorang wanita yang berdiri tak jauh dari jendela.

“Ang…..kau…?” Aku frustasi sendiri dengan apa yang ku lihat.

“Hanya mimpi..lupakanlah” katanya lagi.

“Berarti sekarangpun aku bermimpi.?” Tanyaku dengan membangkitkan keberanianku

“Bisa kau lihat dan rasakan sendiri” ia berkata dan menghilang.
Menyisakan begitu banyak pertanyaan dalam hatiku.

Bersambung…….