Cerita hari minggu.

# BOLU MISTERIUS #

Perkenalkan inisial namaku DnR, aku adalah laki-laki dan bekerja, usia 22 thun (waktu cerita ini terjadi).
Ini salah satu dari beberapa kisah yg sudah & akan di posting di “Curhat massal 17+“.

Kala itu hujan gerimis mengguyur kampung halamanku, aku segera memasukkan motor kesayanganku ke dalam garasi.
“Baru juga nyampe udah ujan aja” kutukku dalam hati, ya aku baru mudik ke kampung setelah hampir 1,5 tahun tak pulang. Berbeda dari mudik2 sebelumnya, kali ini aku mudik bukan di hari raya.
Setelah melepas kangen sebentar dengan seluruh anggota keluargaku, aku segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air hangat yg telah disiapkan ibu. Ibu adalah orang yg paling mengerti aku, dia tau apa yang aku butuhkan tanpa aku memintanya.

Selesai mandi ku rebahkan tubuhku dikasur.
“Kangen juga ama kamar ini” kataku setelah sekian lama aku meninggalkan kamar yg dulu selalu menemani lelap dalam setiap malamku.
Tanpa terasa 2 jam sudah aku tertidur sampai ibuku memanggil dari luar mengajak makan.
Ku lihat jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul 5 sore. Perutkupun sudah terasa lapar sekali.
Ku lahap semua masakan ibuku.
“Enak bu” kataku
“Udah makan saja, jangan sambil bicara” ibuku mengingatkan karna melihat mulutku masih penuh dengan nasi.
Sudah lama pula aku tak menyantap hidangan ibuku ini, rasanya tak pernah berubah walau kulitnya kini tlah berubah tak kencang lagi seperti dulu.
Selesai makan, aku meminta adikku yg paling kecil menyiapkan kopi untukku.
Aku sendiri masuk kamar dan menghisap rokokku.
Ku cari kontak teman2ku disini.
Lalu mulai ku telpon satu per satu, ternyata sebagian nomor sudah tidak aktif, sebagian lagi lagi merantau.
Hanya beberapa orang saja yg masih tinggal karena mereka sedang menuntut ilmu atau bekerja di kota tak jauh dari kampungku.
Rasti..adalah salah satu dari sekian dikit teman yg tertinggal disini.
“Hay ras..apa kabar.?” Kataku mengawali pembicaraanku ditelpon dengan dia.
Setelah ngobrok kesana kemari, yang intinya aku akan main ke rumah dia.
Dia setuju, besok malam atau malam sabtu dia ada di rumah.
Okelah.
Ku teguk kopi hangat yg sudah di hidangkan adikku. Aku sendiri tidak sadar kapan dia menaruh kopi itu di meja.

Waktu yang ku janjikan pada rasti tlah tiba.
Segera aku berangkat ke rumahnya yang berjarak sekitar 30 menit dari rumahku.

Ku ketuk pintu rumahnya dan mengucapkan salam. Tapi belum juga ada sambutan dari dalam.
“assalamu’alaikum…ras” ku tinggikan sedikit volume suaraku…berharap agar rasti mendengar..tapi ternyata usahaku sia-sia.
“Kemana sih ni anak” gumanku. Ku ambil hp di saku celanaku dan ku telpon rasti.
Pada percobaan pertama telponku tidak diangkat, baru pada percobaan ke-2 rasti mengangkat telpon dariku.
“Maad de, aku lagi di RS nih. Kamu masih inget anggle temen sma kita.? Dia kecelakaan” rasti langsung bicara tanpa salam atau apalah.
“Oke..Oke..aku kesana sekarang” jawabku cepat.

Segera ku pacu sepeda motorku menuju Rumah Sakit…??
Nah Lho…ditengah jalan baru sadar.
Rumah sakit mana coba.?
Ku telpon lagi rasti untuk memastika di RS mana anggle di rawat.

Setelah mendapat nama & alamat rumah sakit yg benar, ku pacu lagi sepeda motorku.
Sesampainya di kamar tempat Anggle di rawat, terkejut jga aku melihat gadis manis yg dulu pernah jatuh cinta padaku (kata dia) penuh perban disana-sini. Anggle sendiri sedang tak sadarkan diri.
“Dia kenapa ras” tanyaku pada rasti
“Kata yang nganter sih, diserempet truck” rasti bicara dengan air mata berlinang.
“Sampe parah gitu.?” Kataku pelan
“Iya..waktu jatuh dia di tabrak angkot dari belakang” rasti menjelaskan
“Lalum.angkot dan truck itu..”
“Kabur” rasti menambahkan kata-kataku yg terputus
“Orang tuanya kemana.?” Tanyaku tersadar hanya ada rasti di ruangan ini, aku tau dia anak semata wayang tapi kemana ibu / bapaknya.?
“Ibunya meninggal setahun lalu, ayahnya pergi ke jakarta bekerja. Tadi sudah ku hubungi tapi mail box” rasti tak kuat lagi menahan air matanya dan menangis di samping anggle yg terbujur tak berdaya.

Teringat dulu sewaktu kelas 1 sma dia memasukkan sebuah surat berisi puisi di tasku.
Aku tau itu dia.
Pernah juga sewaktu aku selesai pelajaran olah raga dan menemukan ada coca-cola dingin.
Itupun pasti dia.
Teringat kelas 2 dia malu-malu menyatakan Cinta padaku di Lab biologi..(andai waktu itu ku terima Cintanya).
Teringat dia mulai menjauhiku karena itu.
Seakan memori dalan otakku yg tlah terpendam 5 tahun ini terbongkar semua.

“Dia sadar” rasti sedikit berteriak menghapus semua lamunanku
“Anggle” kataku lirih
Anggle hanya diam..tapi ada sedikit senyum mengembang di pipinya.
“Panggil dokter” pintaku pada Rasti.
Rasti segera beranjak dari posisi duduknya.
Tak berselang lama seorang dokter dan 2 perawat datang, kami diminta menunggu di luar.

Sepuluh menit kemudian dokter keluar.
“Gimana dok” rasti langsung memburu dokter itu
“Suatu keajaiban dia sadar sekarang, luka di kepalanya cukup parah, kemungkinan besar gagar otak, atau bisa jadi dia lupa ingatan secara permanen” keterangan dokter itu mengejutkan kami berdua.
Aku segera masuk ke dalam ruangan itu, di dalam ada seorang perawat laki-laki.
Dia menghadangku dan berkata
“Sebaiknya biarkan dia beristirahat dulu mas”.
Rasti memegang pundakku dan menganggukkan kepalanya.
“Lebih baik kita cari makan dulu de, daripada ikutan sakit”
Ku lihat mata rasti bengkak pasti karna terlalu banyak menangis.

Kami memesan makanan di kantin rumah sakit itu.
Dari rasti aku mendapat cerita yg sangat mengejutkan.
Dia bercerita bahwa Anggle masih sangat mencintaiku. Dia selalu menolak ajakan laki-laki untuk pacaran karena berharap aku akan menerima Cintanya. Rasti sudah berulang kali menasehati anggle agar dapat melupakanku, tapi semua nasehat itu bagai masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri.
Aku tak tau apa yang membuat anggle begitu mencintaiku.
“Kamu tau kenapa anggle bisa kecelakaan.?” Tanya rasti setelah selesai dengan semua ceritanya.
“Seperti yang kamu ceritakan di dalam” kataku pelang.
Rasti tersenyum dan kembali bertanya
“Kamu ingat bolu putih dengan taburan coklat berbentuk ♥..?”
Aku berfikir sejenak..
“Bolu Misterius” jawabku pelan
“Ya..kau menyebutnya begitu karna anggle tak mengakui itu bolu buatannya kan.?”
“Aku sudah tau itu buatanya tapi kenapa dia tidak mau mengaku” kataku
“Apa yang kau katakan ketika anggle mati-matian mengelak bahwa itu adalah bolu buatannya” pertanyaan2 rasti seolah menerbangkanku pada kenangan beberapa tahun yg lalu.

Kala itu hari sabtu. Jam pelajaran sudah berakhir, tapi kami (satu kelas 3 ipa 3) ada les tambahan untuk mempersiapkan ujian nasional.
Ketika kembali dari kantin, ku lihat di dalam tasku ada sebuah kue bolu warna putih dengan taburan coklat berbentuk hati.
“Aah..pasti kerjaan anggle” ku lirik anggle yang sedang asyik mengerjakan pr dari guru mtk pagi tadi.
Ku dekati dia.
“Makasih ya kue nya”
“Kue apaan.?” Kata anggle tanpa menoleh sedikitpun kepadaku
“Ini” kataku sambil menunjukkan bolu tadi
“Apaan ini.?” Kata anggle
“Udahlah..ini pasti dari kamu kan.?” Kataku lagi
“Iiiih..apaan sih. Aku gak tau itu kue apaan, dan aku juga gak ngerti kamu ngomong apa” kali ini anggle menatap padaku
“Lha…terus dari siapa donk.?” Tanyaku
“Manaketehe (mana aku tahu)” jawab anggle dengan memonyongkan bibirnya
Ini membuatku penasaran dan mengumumkannya didepan kelas.
Kontan saja semua murid menatap anggle, tapi anggle mati-matian membantah bahwa bolu itu adalah buatannya, padahal jika dia mengaku aku akan menembak dia, tapi sayang..
“Oke…gini aja, siapapun yg membuat & memberi bolu misterius ini jika dia laki-laki maka dia adalah saudaraku, jika dia perempuan maka dia adalah pacarku” kataku membuat seisi kelas gaduh, keadaan kembali mereda ketika guru kami datang.

“De…kok kamu kenapa..? Kok gak di jawab…?” Suara rasti membuyarkan lamunanku.
“Iya aku inget ras, inget semua” kataku pelan
“Kemarin sehabis kau menelponku, aku mengabarkan kepada anggle tentang kepulanganmu sepertinya dia senang sekali, dan tadi sore dia akan ke rumahku sambil membawa kue bolu yang sama persis dengan bolu misterius dulu, tapi…..” rasti tak melanjutkan ceritanya, hanya isak tangis yang tetdengar pilu.
“Tapi apa ras..? Please lanjutin” pintaku
“Tapi…dia kecelakaan sebelum sampai rumahku” dan meledaklah tangis rasti…
“APA..??” Aku benar-benar terkejut mendengar semua ini.
“Anggle…”akupun tak mampu menahan air mataku.

Setelah selesai makan kami kembali ke ruangan dimana anggle di rawat.
“Anggle…” kataku perlahan di telinga anggel.
Terasa berat dia membuka mata dan tersenyum.
“Cepat sembuh ya..? Aku mau makan bolu misterius, tapi aku mau makannya ama kamu, kamu janji ya, kamu harus temenin aku” kataku dengan deraian air mata.
Anggle tak menjawab..hanya senyum yg mengembang di pipinya.
“Anggle…kamu tau tidak..bolu yg dulu masih ada Lho..” kataku lagi.
Memang bolu misterius itu masih ada, aku memberi pengawat dan ku bungkus rapi di dalam kotak kaca.
Ku perlihatkan photo-photo dengan bolu itu di meja kerjaku…meneteslah air mata anggle kala itu.
“Bolunya jadi lucu lho…jadi lebih kecil & keras, bentuknya juga gak kayak hati lagi, tapi mirip kamu..imut manis…” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku, ku paksakan tersenyum untuk anggle walau hati ini bagai teriris2.
Rasti hanya bisa menangis melihat kami.

Waktu sudah hampir jam 12 malam.
“Kamu gak pulang de” kata rasti
“Gak ras, malem ini aku akan nemenin anggle, kamu aja pulang,nanti ku panggilin taxi atau pake motorku aja”.
Rasti hanya diam….

Ku lihat anggle seperti ingin mengatakan sesuatu, maka ku dekatkan telingaku ke mulutnya.
“Kamu mau ngomong apa ang.?” Kataku.perlahan..
Tak ada kata yang terucap hampir selama lima menit..tapi ketika akh akan bangun..terdengar suara pelaaan sekali.
“A….a…a….aku..sa..sayang..kamu de” suaranya samgat pelan sekali…tapi aku mendengarnya ya aku mendengar kata-kata terakhirnya untukku.
Karena setelah itu dia memuntahkan darah segar dari mulutnya sehingga kemeja yang ku gunakan basah oleh dara.
“Anggleeeeee” rasti berteriak…
Kepalaku pusing pusiiiiing sekali.
Semua suara ribut-ribut memanggi  namaku dan mama anggle bergantian seolah semakin jaun makin jauh dan menghilang.

Aku tersadar…
Terbaring di Rumah Sakit yang sama..di ruangan & tempat tidur yang sama dengan anggle, tapi aku terbaring sendiri.
Ku lihat wajah ibu,ayahku,adik-adikku, rasti,dan seorang lelaki tengah baya yang aku tak mengenalnya.
“Anggle…” kataku
“Anggle mana…?” Aku bertanya kepada semua yang ada tapi mereka hanya menangis.
“Anggle…” kataku sebelum keadaan kembali menjadi gelap.

Aku kembali tersadar..
Tapi kali ini hanya ada rasti dan ibuku.
“Aku mau pulang…aku ingin bertemu anggle sekarang” pintaku pada ibuku, aku merengek seperti anak kecil meminta mainan baru.
“Kamu harus sehat dulu ” kata ibuku
“Aku sehat..bu” kataku sambil mencoba berdiri,rasti membantuku.
“Ya sudah..ibu minta saran dokter dulu” ibu segera beranjak keluar dari ruangan ini.
Tak lama datang seoramg dokter bersama ibuku, dokter itu memeriksa keadaanku sesaat kemudia berbincang dengan ibuku.
Aku tak tau apa yang mereka bicarakan.
Aku bertanya pada rasti.
“Anggle udah sembuh ya ras..?”
Rasti hanya tersenyum, tapi air matanya keluar.
“Nanti anter aku ketempat dia ya.?” Pintaku
Rasti tak berkata hanya menganggukkan kepalanya.
“Tolong sekalian pesenin bolu yg kayak bolu misterius ya” pintaku lagi…membuat rasti tersedu.

Kemudian….
Aku sudah diperbolehkan pulang.
Aku..ibuku..dan rasti.
Naik sebuah mobik kijang, yang menyetir adalah…lelaki itu.
Lelaki yang ada di rumah sakit.
Aku segera bercerita kepada rasti..apa apa saja yg akan ku lakukan jika bertemu dengan anggle.
Salah satunya adalah..aku akan melamarnya.
Ini membuat rasti dan laki-laki itu menangis.
“Siapa dia” aku bertanya dalam bathin

Satu jam kemudian…aku telah sampai.
Aku sampai di
“PEMAKAMAN UMUM KALI BARU”

“Apa..apaan ini…?? Apa maksudnya…?? Aku mau ketemu anggle..bukan ke kuburan…ayo balik lagi…kita ketempat anggle…” aku berteriak.
Tapi laki-laki itu turun dari mobil diikuti ibuku dan rasti.
Ya mau gimana lagi..aku juga ikut turun.
“Lelaki yang aneh..” kutukku dalam hati

Lelaki itu menuju ke sebuah kuburan yang tanahnya masih merah.
Dia menabur bunga lalu menangis di hadapan sebuah batu nisan yang bertuliskan sebuah nama.

ANGGELICA SOLEHA

==================

Kepalaku kembali berkunang.
“Anggle” adalah kata terakhir yg bisa ku ucapkan untuknya…

Aku berada dalam sebuah ruangan yang gelap.
Ku lihat anggle di sebuah pintu.
Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku.
Ku balas senyumnya..dan aku melambaikan tangan kepadanya.
Angglepun menghilang…dan ruangan ini gelap.
Benar-Benar gelap.

>>> Anggleica Soleha

Aku akan selalu mengenangmu.

☆_DNR_☆

baca kisah lainnya :

Selembar Kisah dalam Buku Asmara