-=[ Love story by. User ]=-

Sebelumnya saya minta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam cerita ini.

Cerita ini adalah sebuah pengembangan dari kisah yang sebenarnya.

Ttd. USER @[105389502945546:]

-=[ CINTA tak harus Meiliki ]=-

“part I”

terkadang Cinta itu datang bukan ketika kita mendapatkannya.

Tapi…cinta itu tumbuh dan berkembang ketika Cinta itu sudah benar-benar menghilang.

Oke this is my first story.

Malam itu tepatnya malam minggu..sekitar pertengahan bulan mey 2007.

Bulan bersinar begitu sempurna dengan ribuan bintang yang menemaninya.

Dengan sebuah motor yang setia menemani setiap laju hidupku, ku pacu dengan kecepatan tinggi menuju rumah salah satu sahabat karibku, sebut saja namanya yadi.

Yadi adalah salah satu teman sma ku.

Malam ini kami berdua berjalan tiada tujuan di salah satu kota di pulau sumatera.

Sampai pada saat yadi berkata “tempat ijah aja yuk”

( HAH…..??? samaran sih samaran..tapi kenapa musti ijah coba..gak ada yang agak bagusan dikit apa…!!! tapi yasudahlah Next… )

ijah adalah salah satu teman sewaktu kami smp dulu, dia sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri, begitu pula sebaliknya.

(just info : ini lanjutan dari cerita yang dulu pernah saya posting )

sesampainya di rumah ijah.

“hay kak, apa kabar” sapanya

“baik dek, ibu mana..?” jawabku

“ada di dalem, lho yad kemu kenapa duduk disana aja” sambungnya ketika melihat yadi hanya duduk2 santai di atas motor.

Saya langsung masuk ke rumah yang sudah tak begitu asing bagiku, ku tinggalkan mereka berdua di beranda facebook, eh salah beranda rumah maksudnya.

Sekitar 15 menitan saya berbincang dengan ibu teman saya itu, saya keluar ingin bergabung bersama yadi & ijah.

“Lho…ngapain keluar.? Kita aja mau masuk.” kata yadi ketika kami bertemu di pintu.

“hoaLaaah..yowes gua mau ngeroko aja dulu sambil mu liat bulan”

seketika juga tu dua manusia udah masuk ke dalam.

Belum sampai 5 menit ku nikmati asap dari tembakau kering sumber dari penyakit paru-paru ini, saya dikagetkan oleh sebuah suara yang tak asing ku dengar.

“kopi kak”

“ijaaah…lu ini ngagetin aja”

tu anak cuma bisa cengengesan sambil masuk lagi ke dalam rumah.

“mantaaaab” gumamku sambil menikmati tetesan kopi panas dari ijah tadi.

Belum sempat ku letakkan cangkir kopiku ke meja, keluar dari dalam rumah seorang perempuan yang lumayan cantiklah, tapi manis banget.

Kami berdua terpaku dalam detik-detik berbahaya, diam saling pandang, saling menunggu siapa orang yang pertama berani menyapa duluan.

“temennya ijah ya…?’ kami bertanya hampir bersamaan.

Aiiiih…kenapa juga harus barengan coba, pada saat itu ku rasakan ada perang dunia ke-3 yang sedang terjadi di dalam jantung dan dadaku.

“iya” jawabku kemudia.

“kamu temennya ijah juga..?’ tanyaku.

“ehh..bukan saya sepupunya” jawabnya

“busyet dah…ni ijah punya sepupu manis banget kenapa gak bilang2 ama gua sih” ku maki ijah dalam hati.

Setelah ku atur lagi laju nafasku, jiwa playboy ku pun tumbuh lagi, ku beranikan untuk bertanya “namanya siapa..?, boleh kenalan gak..?”

“boleh…kenalkan namaku kembang, mamamu siapa” jawabnya dengan suaranya yang beeeuh…lembut banget.

Dengan sangat bangga ku sebutkan namaku “perkenalkan namaku USER..alias upil super”

(ASLInya ya gak gitu donk.masih tetep unknown name alias nama di rahasiakan)

kami berbincang sampai ijah dan yadi keluar.

“cie cie cie…yg lagi ngobrol” ledek ijah

“apaan sih lu dek” hardikku menahan malu

kami terdiam cukup lama dalam alam khayal masing-masing.

“suntuk niih” yadi membuka obrolan

“ke laut aja yuk” sambungku…

“yuk” yadi menoleh ke ijah meminta persetujuan.

“gua gak boleh maen malem ama nyokap” kembang bersuara

“halaaah, nyokap lu kan gak ada…gak bakal ada yang kasih tau koq, gua kan udah friend ama nyokapnya ijah” jawabku meyakinkan, oh ya…kembang ini rumahnya di beda kota dengan kami.

“hmmmmmm gimana ya” gumammnya

“ada apa ni..?” keluar suara dari balik pintu

“ini bu saya mau ngajak kembang & ijah keluar bentar..pasti boleh kan..?’ kataku setelah tau kalau yang suara itu berasal dari nyokapnya ijah.

“ini udah jam 8 malam lho” sanggah nyokapnya ijah

“gak nyampe jam 10 koq” aku mulai memelas.

“ya udah…tapi sampai ada apa-apa kamu orang pertama yang ibu cari” jawabnya

“siap komandan” jawabku mantap

singkat cerita kami ber-empat dengan dua motor, saya berboncengan dengan kembang dan yadi dengan ijah, kami berkendara perlahan menikmati setiap terpaan angin malam itu. Tujuannya pantai “pahabungan”(samaran juga). Malam itu bulan bersinar sempurna bersama ribuan bintang yang menambah ramai malam itu. Gemuruh ombak datang pelahan membasahi kaki-kaki kami.lembutnya pasir di pantai ini mengalun lembut dengan waktu yang begitu cepat berlalu.

Malam itu ada segudang kenangan yang tak pernah ku lupakan. Kala ku lihat senyum manisnya dibawah naungan cahaya rembulan. Kala kami berbincang melupakan sejenak segala keluh kesah pelajaran sekolah.kala ku lihat rambutnya terurai dihembus angin pantai membuat wajahnya yang manis terlihat semakin manis. Teringat juga ketika kami hendak pulang, ijah dan yadi sudah berlalu tapi kami masih berada di pinggir pantai.

“bentar ya, gua mau pipis dulu” kataku padanya

“ayo buruan mereka udah jauh” jawabnya.

“iya bentar, udah di ujung tanduk nih” kataku seraya mencari tempat persembunyian yang pas

“jangan lama-lama” teriaknya dari kejauhan

“iya….jangan ngintip ya…” balasku

“najiiis…!” teriaknya sambil memalingfkan muka.

Tak seberapa lama ku hampiri dirinya yang sedang mematung memandang langit.

“legaaaa….lho kenapa..?’ ketika kulihat ada sebuah senyuman manis dibalik bibirnya

“gak apa-apa koq, cuma baru kali ini aja gua keluar malem, ke pantai lagi ditambah ama cowok” katanya

“emangnya klo’ di rumah lu gak pertnah keluar malem..?” tanyaku

“kagak” jawabnya dengan lirih

“yodah..lain kali kita kesini lagi, untuk malam ini cukup sampai saat ini aja” ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, hanya kurang tiga puluh menit untuk memulangkan mereka ke rumah.

“iyaa” jawabnya sambil menuju dimana motorku diparkirkan.

Ku pacu sepeda motorku cukup kencang karena aku sadar bahwa kami sudah tertinggal jauh daro yadi & ijah.

“lam amat…! ngapain aja lu rang..?’ bentak yadi ketika kami bertemu di sebuah jembatan.

“dianya pipis dulu” jawab kembang seraya menunju ke arahku.

Kami pulang kerumah sedikit terlambat, tapi tak sampai membuat orang tua ijah gelisah.

Malam itu rembulan masih bersinar begitu terang.

Walau rasanya sinarnya masih sama sampai saat ini.

Tapi setiap getar yang terasa begitu sangat berbeda.

Mungkin bukan cinta yang kurasa saat itu.

Hanya perasaan sesaat yang terjebak dalam pasir-pasir di pantai pahabungan

terbawa angin sampai samudera….

bersambung……….

karena keterbatasan karakter cerita ini bersambung ke CINTA TAK HARUS MEMILIKI part II.

Sering-sering mampir yaaa….

Original posting by plusmassal.wordpress.com

fans page di facebook : curhat massal 17+

-=[ USER ]=-